Tampilkan postingan dengan label Franchise. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Franchise. Tampilkan semua postingan

5 Jurus Agar Usaha Franchise Cepat Balik Modal

By Unknown | At 08.51 | Label : | 0 Comments

Siapa yang tidak senang jika usahanya menghasilkan keuntungan lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya? Untuk itu harus melewati titik BEP (Break Even Point) alias balik modal terlebih dulu. Rata-rata usaha umumnya diperkirakan akan bisa balik modal di akhir tahun kedua, walau begitu tergantung jenis atau bidang usahanya.
Jenis usaha di bidang makanan biasanya lebih cepat balik modal dibandingkan usaha di bidang lainnya. Makanya bidang makanan ini selalu menjadi favorit calon franchisee. Walau begitu persaingan usaha di bidang makanan pun sangat ketat. Tak jarang sesama franchisee bersaing sengit karena pengaturan teritori yang makin sempit. Akibatnya omzet usaha bukannya makin meningkat, malah makin turun.
Dalam situasi begini, bagaimana mau untung kalau balik modal saja susah? Nah, supaya lebih cepat balik modal, ada beberapa ide bisnis yang bisa dilakukan para franchisee.
1. Lokasi strategis
Tempat usaha atau outlet di pinggir jalan utama, di persimpangan, di sudut pinggir jalan, lalu lintas yang ramai, mudah dijangkau, mudah terlihat, punya tempat parkir memadai, adalah lokasi-
lokasi yang harus dipilih untuk menarik pembeli. Makin banyak pengunjung, makin besar kesempatan terjadi penjualan, makin besar omzet usaha, makin cepat balik modal.
2. Take over
Dibandingkan dengan merintis outlet baru, yang kemungkinan memerlukan waktu sampai orang mengenal tempat usaha Anda, mengapa tidak mempertimbangkan mengambil alih franchise yang sudah berjalan baik dari pemilik lama kemudian menjalankannya sendiri? Ini merupakan salah satu cara memastikan Anda akan segera mendapatkan pembeli. Dengan pelanggan yang sudah ada ditambah sedikit kreativitas dalam berpromosi, Anda akan mendapat pelanggan baru.
3. Beli hak waralaba utama
Jika memiliki dana cukup besar dan bertujuan untuk mengembangkan area bisnis di suatu daerah sasaran, Anda bisa mempertimbangkan membeli hak waralaba utama di daerah tersebut. Sehingga calon franchisee lain yang akan buka di sana harus seizin Anda. Cara ini akan menjamin teritori pengembangan usaha Anda tetap kompetitif di tengah persaingan usaha yang makin ketat.
4. Kontinuitas stok barang
Pelanggan dengan mudah beralih ke pesaing terutama sesama franchisee jika mereka tidak bisa mendapatkannya dari outlet Anda. Karena itu menjaga ketersediaan stok barang adalah keharusan untuk memastikan kelancaran penjualan. Makin tinggi penjualan makin cepat balik modal.
5. Efisiensi biaya
Dalam rumusan BEP maka biaya tetap (fixed cost seperti listrik, telepon, gaji karyawan, franchise fee, dan biaya tidak tetap (variable cost, seperti bahan baku) adalah faktor-faktor yang sangat menentukan cepat atau lambatnya balik modal. Dalam kaitannya dengan aneka biaya ini, cobalah menghemat pemakaian listrik, telepon, dan usahakan pilihfee waralaba yang realistis. Lebih baik kalau franchise fee dibayar tiap tahun ketimbang dibayar di muka. Artinya kalau sudah ada pemasukan usaha baru, bayar franchise fee. Kemudian mengoptimalkan cara kerja agar lebih produktif, dan mendapatkan bahan baku murah dengan kualitas yang baik. Semua upaya tadi akan membantu efiesiensi biaya. Artinya makin kecil biaya-biaya yang dikeluarkan, makin cepat balik modalnya.

Beri nilai tambah
Pelayanan memuaskan. Berilah nilai lebih pada outlet Anda. Jangan hanya terpaku pada konsep standar yang diberikan franchisor, tapi tambahkan juga keunikan pada gerai Anda. Selain itu, pemilik harus terjun langsung mengelola waralaba agar paham dengan kondisi bisnisnya. Sebelum terjun ke pengelolaan waralabanya, calonfranchisee perlu mempelajari betul sang franchisor. Oleh karena itu pilihlah yang sesuai dengan minat atau hobi, sehingga tidak terasa sedang bekerja tetapi melakukan sesuatu yang disukai.
Sebaiknya tidak terlalu bergantung pada sistem yang sudah ada. Biasanya, karena sudah mendapatkan SOP (standard operating procedure) dari franchisor, calon franchisee enggan mencari tahu lagi keinginan pelanggan seperti apa. Franchisee juga harus berupaya agar kinerja gerainya lebih baik daripada yang ditargetkan. Walaupun sudah ada sistem yang tinggal dijalankan dan memiliki pegawai untuk menjalankan sistem tersebut, paling tidak 2-3 hari sekali cek kondisi di masing-masing gerai. Dengan begitu, Anda tahu langsung masalahnya di mana, dan segera mencari solusi.
Ciptakan nilai tambah dari standar pelayanan yang sudah diberikan franchisor. Selama dikomunikasikan dan mendapat persetujuan franchisor, boleh-boleh saja kita membuat kejutan yang menyenangkan untuk pelanggan. Misalnya program diskon pada hari-hari istimewa, paket hemat, memberi gimmick berupa hadiah kecil. Yang pasti para pelanggan senang jika Anda perlakukan seperti raja. Pelanggan yang puas akan kembali lagi, mengajak siapapun ke gerai Anda. Itu artinya lebih banyak penjualan, omzet meningkat, makin cepat balik modal.

(Mike Rini Sutikno, CFP, Managing Partner MRE, Financial & Business Advisory)

Rahasia Mengembangkan Bisnis Franchise Makanan

By Unknown | At 08.50 | Label : | 1 Comments

Rahasia Mengembangkan Bisnis Franchise Makanan

Bisnis Franchise Makanan memang booming pada 3 atau empat tahun lalu, kendati pada tahun-tahun ini sedikit meredup. Akan tetapi, dalam dunia bisnis, eksisitensi harus dibangun terus agar bisnis yang sudah di geluti tidak sia-sia. Waralaba pun terus berkembang dan kian menjamur, jika ada banyak waralaba Bisnis Franchise Makanan yang tumbang, itu lebih pada strategi bisnis yang kurang tepat.
Jika dulu hanya “segelintir” orang yang berbisnis waralaba, karena Bisnis Franchise Makanan kebanyakan berasal dari luar negeri dan membutuhkan dana sangat besar, kini Bisnis Franchise Makanan justru berkembang pesat.
Menurut Fauziah Arsiyanti, SE, MM, Dip. IFP., advisor lembaga keuangan First Principal FinancialSingapura, hal ini disebabkan orang yang membeli waralaba, yang disebut pewaralaba atau franchisee, tak perlu memulai usahanya dari nol.
Pewaralaba tinggal menjalankan usahanya berdasarkan manajemen dan peraturan yang ditentukan pemiliknya. Meski banyak yang melirik bidang lain, bisnis waralaba di bidang makanan, termasuk makanan tradisional, lebih banyak diminati. Sebab, kata konsultan yang akrab disapa Zizi ini, masyarakat Indonesia memang menyukai makanan tradisional.
Bisnis Franchise Makanan makanan tradisional tak selalu butuh modal besar. Zizi mengingatkan, tetap bersikap hati-hati dan selektif memilih waralaba, menjadi syarat utama sebelum memutuskan membeli waralaba. Jika ingin mulai menjadi pewaralaba, berikut ini poin-poin penting yang harus diperhatikan dalam memilih waralaba makanan tradisional:
Bisnis Franchise Makanan Harus Punya Hasrat
Memiliki hasrat untuk menjual makanan yang Anda inginkan juga menjadi modal penting. Untuk berbisnis retail (perdagangan eceran), memang harus menyukai bidang yang akan digeluti. Sehingga, kondisi usaha sedang naik maupun turun, Anda tetap tekun menjalaninya.
Bisnis Franchise Makanan Harus Melakukan Riset
Teliti dulu terwaralaba atau pihak yang menjual waralaba, yang disebut juga franchisor, yang Anda inginkan. Bandingkan dengan terwaralaba lain yang sejenis. Jangan membeli usaha dari terwaralaba yang tak jelas identitasnya. Jika perlu, cek ke lembaga waralaba yang ada di Indonesia. Jika memang terwaralaba tersebut resmi dan bagus, bisa dipastikan akan terdaftar di sana. Bila memang suka, barulah berunding untuk mendapatkan kesepakatan.
Bisnis Franchise Makanan Harus Rajin Melakukan Cek
Tak ada salahnya mengecek usaha terwaralaba yang Anda inginkan ke orang yang sudah lebih dulu menjadi pewaralabanya, baik yang masih berjualan maupun yang tidak. Tanya pendapat mereka. Meski satu sama lain belum tentu punya kepuasan yang sama, setidaknya Anda mendapat gambaran lebih.
Bisnis Franchise Makanan Harus Peka Terhadap Hak Cipta
Teliti lebih dulu hak cipta makanan milik terwaralaba yang sudah diincar untuk dibeli. Jangan sampai hak cipta yang diklaim olehnya, ternyata milik pihak lain dan akhirnya bisa bermasalah.
Bisnis Franchise Makanan Harus Dilihat Daya Tahan Mereknya
Jika Anda tak suka risiko tinggi dan kurang berjiwa bisnis, pilih terwaralaba yang sudah lama berjalan, setidaknya lima tahun, memiliki sistem kuat, misalnya memiliki banyak cabang dan manajemen bagus, serta bermodal besar. Usaha yang masih baru, belum cukup teruji menghadapi siklus roda bisnis.
Bisnis Franchise Makanan Harus Memahami Sistem Keungannya
Sebelum memutuskan membeli, periksa dulu kondisi keuangan terwaralaba. Jika perlu, minta bantuan akuntan publik atau pakar keuangan untuk membaca laporan keuangan terwaralaba.
Waspadai Bisnis Franchise Makanan yang Meminta Bayaran di Muka
Hati-hati bila terwaralaba meminta seluruh modal harus disetorkan di muka. Cari penyebabnya. Bukan tidak mungkin kondisi keuangan terwaralaba tidak bagus. Selain itu, kini banyak terwaralaba yang baru muncul, meminta modal di muka hanya karena ingin menarik initial fee (biaya yang diperlukan untuk memulai bisnis) dari pewaralaba, lalu kabur. Lebih baik, cari terwaralaba yang pembayarannya fleksibel. Artinya, pembayarannya bisa dilakukan bertahap.
Bisnis Franchise Makanan Harus Menyiapkan Cadangan Biaya
Saat usaha baru berjalan, biasanya perputaran modal belum berjalan lancar. Daripada usaha langsung tutup karena kekurangan modal, lebih baik sediakan dana cadangan. Menurut Zizi, pastikan memiliki modal yang cukup, setidaknya untuk tiga bulan ke depan. Jika membutuhkan Rp 10 juta untuk modal berwaralaba, misalnya, sebaiknya Anda mempersiapkan dana sebesar Rp 30 juta.
Turnover
Hitung berapa keuntungan per bulan yang didapatkan dari usaha waralaba ini. Jika hasilnya memang bagus, silakan melangkah lebih lanjut.
Inventory
Sebaiknya, pilih terwaralaba yang tidak membutuhkan banyak inventori, misalnya, mesin-mesin dan barang besar. Sebab, akan membutuhkan modal lebih banyak lagi. Lebih baik menjalankan usaha yang padat karya daripada padat modal.
Bisnis Franchise Makanan Harus Kreatif dan Disiplin
Meski semua ilmu dari terwaralaba sudah ditransfer pada Anda, tetap harus kreatif dalam mencari pelanggan, disiplin membuat laporan keuangan, dan menerapkan aturan main yang sudah ditetapkan. Jangan terlalu percaya diri, sebab membeli waralaba yang bagus bukan jaminan makanan Anda akan selalu laris, jika tak dibarengi dua hal ini. Namun, bukan berarti Anda bebas menjual hasil masakan kreasi sendiri tanpa seizin terwaralaba. Ingat, Anda membawa nama dan imej terwaralaba.
Bisnis Franchise Makanan Harus Melihat Popularitas Makanan
Agar laris, pilih waralaba yang menjual jenis makanan yang banyak digemari dan tidak terlalu sulit dibuat. Antara lain, mi, ayam goreng, daging sapi, soto, dan donat, atau kue. Selain itu, teliti lebih lanjut berapa orang pelanggan yang datang ke tempat terwaralaba yang Anda incar.
Bisnis Franchise Makanan Harus Mempunyai Kualitas yang Terjaga
Pembeli yang datang tentu mengharapkan makanan di cabang milik Anda memiliki rasa dan kualitas layanan yang sama dengan pemilik usaha aslinya. Jadi, kontrol terus kualitas makanan dan manajemen agar pembeli tak kecewa. Mutu daging dan cara membakar wijen, misalnya, harus sama dengan yang dijalankan terwaralaba. Oleh sebab itu, patuhi peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan terwaralaba.
Kelola Sendiri Bisnis Franchise Makanan
Agar lebih terkontrol dan menghindari kecurangan dalam keuangan, kelola sendiri waralaba yang Anda beli, dan jangan diserahkan kepada orang lain.
Fenomena Bisnis Franchise Makanan: Perempuan Lebih Sukses
Di Indonesia, modal untuk membeli waralaba lebih kecil dibandingkan di luar negeri, yaitu Rp 10-400 juta. Uang itu sudah termasuk antara lain initial fee, renovasi, suplai, inventori, deposit biaya sebelum memulai bisnis, dan biaya pelatihan tenaga kerja. Setelah usaha berjalan, ada pula biaya royalti (royalty fee), yang besarnya 2-15 persen dari penjualan.
Mengapa perempuan lebih sukses berwaralaba dibanding pria? “Perempuan “terlahir” ahli bermanajemen, termasuk mengatur pembantu, keluarga, keuangan, dan lainnya. Jadi, saat terjun ke bisnis, dia juga ahli. Selain itu, dia punya insting bagus, cenderung hati-hati mengambil langkah dan patuh peraturan,” jawab Zizi.
Lalu, kapan perjanjian kerjasama waralaba dianggap batal? Menurut Zizi, bila salah satu pihak gagal memenuhi kewajibannya. Namun, bisa jadi ada kelonggaran dari pihak terwaralaba untuk hal-hal tertentu. Jadi, baca dengan teliti surat perjanjian kerjasama.
Soal pemilihan jenis makanan untuk waralaba, tergantung selera dan kemampuan. Sebagian pewaralaba lebih menyukai masakan alias makanan “berat”, sebagian yang lain memilih snack. “Lihat juga modal dan kemampuan. Jika modalnya kecil, lebih baik memilih makanan ringan.”
CIRI WARALABA YANG BAGUS
1. Memiliki sistem kuat dan bermodal besar.
2. Punya laporan keuangan yang rapi, mudah dibaca, dan tak dibuat berdasarkan karangan. Akan lebih baik bila dibuat oleh akuntan publik.
3. Tak sekadar menjual bisnisnya. Tak pelit membagi pengalaman selama menggeluti usahanya, memberikan saran pada pewaralaba soal lokasi yang bagus, ada standar pelayanan dan kontrol kualitas.
4. Menyediakan pelatihan sampai tenaga kerja yang bersangkutan mahir melakukan tugasnya.
5. Menyediakan alat-alat yang dibutuhkan, sehingga pewaralaba tidak perlu membeli alat yang mahal.
6. Menyuplai makanan atau bahannya, sehingga kualitas di semua pewaralaba tetap terjaga.
7. Jujur pada pewaralaba mengenai manajemen dan kondisi keuangan waralaba miliknya.

Tips Memulai Bisnis Makanan dengan Waralaba

By Unknown | At 08.47 | Label : | 0 Comments

Tips memulai dan memilih bisnis makanan  melalui sistem waralaba (sebagai franchisee)di foodcourt yang persaingannya cukup tinggi, yang perlu diperhatikan yaitu:
  1. Karena sudah banyak yang menjual jenis makanan dan persaingan di foodcourt tersebut maka yang perlu disiapkan diawal adalah mindset dan mental sebagai seorang entrepreneur, siap menerima dan menjalankan tantangan yang ada, siap tidak menyerah dan mau bangkit lagi jika menemui kegagalan. Lalu pilihlah jenis makanan yang belum ada dan mempunyai keunikan dan perbedaan dari yang lainnya. Punya nilai kreatifitas dan innovasi dari jenis-jenis yang sudah ada dilingkungan tersebut.
  2. Jika ingin memulainya dengan memilih system beli franchise (waralaba/kemitraan) maka pelajarilah semua penawaran franchise yang diberikan oleh para franchisor (pemberi pewaralaba). Dan berkunjunglah ke para franchisee (penerima waralaba) yang sudah bekerjasama dengan franchisor tersebut, apa kiat sukses mereka sehingga bisa terus menjalankan system franchise yang dijalankan.
  3.  Sebagai calon franchisee, Anda juga harus mempelajari Peraturan Pemerintah RI No.42 Tahun 2007 tentang WARALABA. Di peraturan tersebut dijelaskan tentang kriteria usaha waralaba, hak dan kewajiban masing-masing franchisee dan franchisor, perjanjian kerjasama yang benar dan lain-lain.
  4.  Jika nanti sudah menjalankan usaha franchise, kita tidak bisa berharap akan berhasil tanpa kerja keras dari sang pemilik usaha. Kita sendiri harus aktif dan menjalankannya dengan sungguh-sunguh sesuai system yang diberikan oleh franchisor. Dan jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan kepada pihak franchisor.
  5.  Bisnis makanan tentu harus memperhatikan mutu dari makanan yang diberikan sesuai system, untuk itu juga kita patut memberikan pembinaan dan pengawasan kepada para karyawan kita.
  6.  Ditengah persaingan yang ada di foodcourt tersebut, maka perlu adanya innovasi dan kreatifitas dalam memberikan promo-promo menarik setiap periodenya agar para pelanggan akan setia membeli di outlet kita.

Usaha Teh Segar

By Unknown | At 08.41 | Label : | 1 Comments

Sudah sejak zaman dulu, teh sudah menjadi minuman yang digandrungi masyarakat Indonesia. Selain rasanya yang khas, konon minuman ini juga punya manfaat kesehatan bagi tubuh.   
Karena pasar yang nyaris tak terbatas, tidak heran banyak yang mencari peruntungan dari bisnis minuman teh. Malah, tak sedikit yang menawarkan bisnis ini lewat skema kemitraan atau waralaba.
Cuma, tidak semua kemitraan usaha minuman teh ini tak berkembang bagus. Maklum, kompetisinya sudah terbilang ketat.  Tanpa strategi pasar yang kreatif dan kualitas produk yang unik, sulit bagi pemain bisnis ini mengembangkan usahanya.
Dari tiga kemitraan minuman teh yang kali ini diulas KONTAN, terlihat ada tumbuh pesat, tapi ada pula yang tumbang di tengah jalan. Berikut ulasannya:  

Good Tea
Good Tea membuka tawaran kemitraan sejak Januari 2009. Usaha teh seduh yang berpusat di Depok, Jawa Barat, ini cukup berkembang pesat. Buktinya, saat ini Good Tea sudah memiliki lebih dari 7.000 mitra yang tersebar di 18 provinsi di Indonesia. Bukan hanya di dalam negeri, di Serawak, Malaysia juga sudah ada mitra yang membuka Good Tea.
Ketika KONTAN mengulas kemitraan ini pada 2010 silam, Good Tea baru memiliki 1.200 mitra. “Sekarang, untuk kawasan Jabodetabek saja sudah lebih dari 2.000 mitra kami,” ujar Anto Ismail, GM Pemasaran Good Tea.
Menurut Anto, faktor utama yang membuat bisnis Good Tea berkembang secepat kilat adalah berkat promosi di situs www.goodtea.biz. Anto bilang, sekitar 60% mitra mereka mengaku mendapatkan informasi mengenai Good Tea melalui situs itu.
Saking banyaknya mitra yang tertarik, beberapa mitra membuka booth di lokasi yang berdekatan. Padahal, menurut aturan, jarak antar mitra haruslah 300 meter. Tapi, ada beberapa booth yang jaraknya cuma 100 meter. “Selama mitra-mitra tidak bermasalah, kami masih membolehkan,” tuturnya.
Tahun 2010 silam, Good Tea memiliki lima paket kemitraan untuk ditawarkan ke mitranya. Paket itu antara lain, paket Silver A dengan biaya investasi Rp 4,5 juta, Silver B sebesar Rp 5,5 juta, Oaket Tricycle Booth Rp 7,5 juta, Mini Booth Rp 3,5 juta, dan Moving Booth sebesar Rp 6,5 juta.
Nah, sejak Juli 2012, Good Tea menambah paket investasinya yakni Motor Booth dengan biaya investasi sebesar Rp 4,5 juta dan Golden Booth Rp 8 juta. “Sudah lebih dari 100 mitra yang mengambil paket Golden Booth,” kata Anto. Tapi, paket yang paling banyak diminati mitra ialah paket Silver A dan paket Silver B.
Good Tea tak memungut biaya royalti. Namun, mitra diwajibkan membeli bahan baku dari pusat berupa bubuk teh senilai Rp 17.000 per kemasan 300 gram. Mitra juga harus membeli  gelas teh seharga Rp 19.000 per 50 gelas, dan sedotan Rp 17.500 per 350 buah.
Dari tiap kemasan bubuk teh 300 gram, mitra bisa menghasilkan 280 gelas minuman teh. Teh seduh Good Tea ini dijual dengan harga Rp 2.000-Rp 3.500 per gelas. Kalau bisa menjual minimal 70 gelas per hari, mitra diperkirakan sudah balik modal dalam tempo dua bulan.

Arbain Group
Pada Oktober 2010, KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan minuman teh dari Arbain Group. Kala itu, Arbain yang bermarkas di Solo, Jawa Tengah ini sudah memiliki 46 mitra.
Selang dua tahun kemudian, kini mereka sudah memiliki 74 gerai, enam diantaranya milik sendiri dan 68 gerai milik mitra yang tersebar di Solo, Bandung, Ciamis, dan Yogyakarta.
Sukarna Jundi, pemilik Arbain Group mengatakan, perkembangan bisnis kemitraan teh segar miliknya mengalami peningkatan karena tetap konsisten pada kualitas rasa. Agar rasanya tetap baik, maka Sukarna sangat selektif dalam memilih bahan baku. "Saya selalu mencari bahan baku yang berkualitas," ujarnya.
Teh buatan Sukarna ini memiliki rasa gado-gado. Ada rasa sepet, ada harum dan juga ada pahitnya. Menurutnya, paduan rasa teh tersebut menyesuaikan dengan selera lidah masyarakat.
Sukarna juga berusaha agar harga produknya tidak terlalu mahal. Maka itu, harga jual teh segar per gelas sejak 2010 tidak mengalami perubahan hingga kini yakni masih seharga Rp 2.500 per gelas.
Selain teh, Arbain Grup juga memadu usaha minuman teh ini dengan menu lain yakni popcorn. Harga popcorn yang dijual juga tidak berubah yakni masih Rp 3.500 per bungkus. Menurut Sukarna, paduan menjaga kualitas dan harga yang tetap miring itu yang membuat usahanya berkembang sampai sekarang.
Selain fokus pada kualitas dan harga, Sukarna bilang, waktu proses pengiriman produknya dari kantor pusat ke sejumlah mitra di daerah juga dijamin lancar dan cepat.
Ia berusaha mengirim bahan baku tempat waktu sehingga si mitra tidak menunggu lama dan kecewa. Sukarna juga aktif melakukan promosi melalui media sosial. "Saya juga berusaha juga agar tampilan booth yang saya buat lebih elegan sehingga menarik minat konsumen,"tuturnya.
Meskipun tidak mengalami kenaikan harga, tapi biaya investasi kemitraan mengalami peningkatan. Pada dua tahun lalu, Sukarna menawarkan paket kemitraan dengan nilai  investasi Rp 6,3 juta. Namun sekarang nilai investasinya sudah naik menjadi Rp 8,9 juta. Dengan membeli paket investasi sebesar ini, mitra akan mendapatkan dua gerobak dan peralatan untuk berjualan.
Sukarna juga tidak memungut biaya royalti fee dan franchise fee agar mitranya dapat meraup omzet dan balik modal dalam waktu cepat. Berdasarkan pengalaman selama ini, mitra dia umumnya sudah balik modal sesuai dengan target waktu yang dijanjikan. Bahkan ada mitra yang sudah balik modal dalam waktu dua bulan pasca beroperasi. Itu kalau si mitra bisa meraup omzet sekitar Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per hari.

Teh Sofia
Teh Sofia berdiri pada September 2009 lalu di Surabaya, Jawa Timur. Konsepnya cukup unik karena teh seduh yang satu ini mengandalkan bunga rosella sebagai bahan baku dasarnya.
Teh Sofia juga menawarkan banyak rasa seperti susu dan madu. Kala itu, teh rasa orisinal dihargai Rp 2.000 per cup. Sedangkan teh rasa susu dihargai Rp 2.500 per cup dan teh rosella madu dijual Rp 3.000 per cup.
KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan ini pada Maret 2010 lalu. Kala itu, teh Sofia telah membuka lima gerai yang berlokasi di Surabaya dan Bali. Empat diantaranya milik mitra, dan satu gerai milik sendiri.
Namun, sejak awal tahun ini, tawaran kemitraan Teh Sofia tutup. Dyah Setyaningsih, pemilik Teh Sofia mengatakan, bisnis tehnya tak bisa lagi dikembangkan karena harga bahan baku rosella yang terus bergerak naik.
"Awalnya, harga rosella masih Rp 50.000 per kilogram, tapi akhir tahun lalu sudah mencapai Rp 150.000 per kilogram," tutur Dyah. Akibatnya harga jual teh jadi naik.
Maka, Dyah pun memutuskan menutup penawaran kemitraan Teh Sofia. Begitupun dengan empat mitranya juga menutup bisnisnya itu.
Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. ZONApindy.blogspot.com - All Rights Reserved zonapindyB-Seo Versi 4 by Crishnaadi